Selasa, 28 April 2015

BIOGRAFI RABIATUL ADAWIYAH

Biografi Rabi’ah Al-Adawiyah

Nama lengkapnya ialah Ummu al-khair Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-Qisiyah. Dia lahir di Basrah pada tahun 96/713 M. Beliu meninggal dunia pada tahun 185 H/801 M dan orang-orang mengatakan bahwa dia dikuburkan di dekat kota yerussalem. Dia berasal dari keluarga miskin dan dari kecil dia tinggal di kota kelairannya. Di kota ini namanya sangat harum sebagai manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang saleh semasanya. Rabi’ah al- Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah menikah dianggap mempunyai saham yang besar dalam memperkenalan cinta Allah kedalam islam tasawuf.          Tingkat kehidupan zuhud yang tadiny direncanakan oleh Hasan Bashri, yaitu takut dan pengharapan, telah dinaikkan oleh Rabi’ah kepada zuhud karena cinta. Cinta yang suci murni lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Cinta yang suci murni tidaklah mengharapkan apa-apa.  Sebagai seorang wanita zahidah, dia selalu menampik setiap lamaran beberapa pria saleh, dengan mengatakan :
“Akad nikah adalah hak pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku hal itu tidak ada, karena aku telah berhenti maujud dan telah lepas dari diri. Aku maujud dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya miliknya. Aku hidup dalam naungan firmannya. Akad nikah mesti diminta dari diriNya, bukan diriku.
            Setelah ayahnya wafat Rabi’ah al-adawiyah terpaksa harus terpisah dari keluarganya karena kehidupan ekonomi yang semakin menghimpit. Karena kehidupannya itulah sehingga memaksa Rabi’ah untuk menjadi hamba sahaya. Kehidupan Rabi’ah al-adawiyah sebagai hamba sahaya yang sealu di kekeng oleh majikannyamembuat rabi’ah selalu berdo’a kepada Allah SWT untuk meminta petunjuk. Dia tidak pernah menyia-nyiakan waktu luangnya untuk berdo’a baik itu pagi, siang, ataupun malam. Semakin hari ibadah yang dilakukan Rabi’ah semakin meningkat dengan memperbanyak dzikir, taubat, puasa, serta menjalankan shalat siang dan malam. Beliau melaksanakan shalat sampai meneteskan air mata karena rindu kepada Allah AWT. Lama-kelamaan saat majikannya mendengar rintihan do’a Rabi’ah al-adawiyah, majikannya melihat cahaya yang menerangi bilik rabi,ah saat beliau berdo’a dimalam hari. Hal ini membuat majikannya merasa bahwa Rabi’ah adalah kekasih Allah. Dari kejadian iti Rabi’ah di bebaskan dan di beri pilihan, yaitu mendapatkan semua harta majikannya atau kembali ke kota kelahirannya. Karena Rabi’ah hidup untuk menjauhi kekayaan dan kesenangan dunia maka dia memilih untuk kembali ke kotanya untuk menjadi sufi dan mendekatkan diri dengan Allah.
Aliran sufi yang diajarkan Rabi’ah Al-Adawiyah yaitu pelopor tasaawuf mahabbah yaitu penyerahan diri total “kekasih” (Allah). Hakikat tasawufnya adalah habbul-ilah (mencintai Allah SWT). Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut akan siksa neraka atau rasa penuh harapakan pahala atau surga, melainkan semata-mata terdorong oleh rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami kendahan-Nya yang azali. Mahabbah Rabi’ah merupakan versi baru dalam masalah ubudiyah kedekatan pada Tuhan, perkembangan ajarannya selama kurun waktu 713-801 M.
Beliau sezaman dengan Sufyan Sauri, murid yang terkenal dari Hasan Basri, pada suatu hari didengarnya Sufyan mengeluh : “Wahai sedihnya hatiku’, yaitu kesedihan shufi yang telah diwariskn oleh gurunya. Mendengar itu berkatakah Rabi’ah : “kessedihan kita masih sedikit sekali, karena kalau kita benar-benar bersedih, kita tidak ada di dunia ini lagi. Sebagaimana halnya para zuhid sebelum semasanya, diapun selalu diliputi tangis dan rasa sedih. 
Cinta murni kepada Tuhan, itulah puncak tasauf Rabi’ah, pantun-pantun kecintaan kepada Illahi, yang kemudian banyak keluar dari ucapan shufi yang besartelah dimulai lebih dahulu oleh Rabi’ah Al-Adawiyah. Setengah dari sya’irnya ialah :
“Aku cinta pada-Mu dua macam cinta ; cinta rindu
Dan cinta, karena Engkau berhak menerima cintaku
Adapun cinta, karena Engkau
Hanya Engkau yang aku kenang tiadda lain
Adapun cinta, karena Engkau berhak menerimanya
Agar Engkau bukakan bagiku hijab, supaya aku dapat melihat Engkau
Pujian atas kedua perkara itu bukanlah bagiku
Pujian atas dua perkata itu adalah bagi-Mu sendiri.”
            Al-Ghazali memberikan pendapatnya atas sya’ir itu demikian : “Barang kali yang beliau maksud dengan cinta kerinduan, ialah cinta akan Allah karena Ihsan dan nikmatnya di atas dirinya, “karena Allah telah menganugrahkan hidup, sehingga dia dapat menyebut nama-Nya (Jalal), yang kian sehari kian terbuka baginya. Maka itulh cinta yang setinggi-tingginya (kamal). Dan cinta yang timbul karena Tuhan karena merenungi keindahannya (Jamal ul Rububiyah) itulah yang pernah disabdakan Rasulullah Saw dalam suatu hadits Qudsi :” Aku sediakan bagi hambaku  yang saleh barang yang mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah dicatir di hati seorang manusia jua pun “.
            Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi, melakukan amal saleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masup surga, tetapi karena cintanya kepada Allah. Cintlah yang mendorongnya ingin selalu dekat denganNya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang di cintai, bukan sesuatu yang harus di takuti. Diantara ucapan-ucapannya yang menggambarkan tentang konsep zuhd yang memotivasi rasa cinta adalah:
“Wahai Tuhan ! Apapun  bagiku dunia yang Engkau karuniakan kepadaku, berikanlah semuanya kepada musuh-musuh Mu, dan apa pun yang engkau akan berikan padaku kelak di akhirat, berikan saja pada teman-temanMu, bagiku, Engkau pribadi sudah cukup.
            Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah Al- Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan diri karenahadir bersama Allah, seperti terungkap dalam lirik sya’irnya :
Kujadikan engkau temanberbincang dalam kalbuku
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu
Dalam kalbu terpancang selalu Kekasih cintaku.
            Selanjutnya, dalam larik sya’irnya yang lain, dia mengungkapkan isi hatinya sebagai berikut :
Buah hatiku, cintaku hanya padaMu
Beri ampunlah pembuat dosa yang yang datang ke hadiratMu
Engkau harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dirimu.

            Karena seluruh lorong hatinya telah di penuhi cinta Ilhi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan buat membenci yang lain. Dengan demikian, menerut al-Taftazani, dapat di simpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad II hijriah, telah merintis konsep zuhd dalam islam berdasarkan cinta kepada Allah. Tetapi, dia tidak hanya berbincang tentang cinta Ilahi, namun juga menguraikan ajaran-ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhd, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, rida, dan lain sebagainya.


0 komentar:

Posting Komentar